Islam dan Pendidikan Sains
Oleh: Budi Hartanto (peminat filsafat sains dan teknologi)
Pendidikan sains di tanah air belumlah mencapai standar kemajuan sains dan teknologi mutakhir. Sering kali memang kita disuguhkan berita tentang kemenangan olimpiade sains internasional para palajar Indonesia, yang kemudian membentuk sebuah persepsi publik bahwa Indonesia mempunyai sistem pendidikan sains yang cukup baik. Namun sebenarnya bila dilihat dari banyaknya artifak teknologi yang berasal dari luar, dapatlah dipahami bahwa penguasaan sains dan teknologi Indonesia boleh dibilang cukup tertinggal dibandingkan dengan negara Asia lainnya.
Demikianlah bahwa kita belum mempunyai cukup infrastruktur berkenaan dengan sains dan teknologi, seperti sistem pendidikan sains yang baik dan juga ketersediaan instrumentasi. Sebuah penelitian menjelaskan bahwa ada perbedaaan yang cukup signifikan dalam kaitannya dengan perkembangan infrastruktur sains dan teknologi antara negara dunia pertama dan dunia ketiga. Penggunaan uang untuk research and development seperti dijelaskan dalam penelitian tersebut benar-benar jauh dari perkiraan. Bayangkan antara negara negara dunia pertama dan dunia ketiga penggunaan uang untuk riset dan pengembangan sains dan teknologi mempunyai angka perbandingan 97,1% : 2,9%. Artinya sedikit sekali uang dikeluarkan untuk riset dan pengembangan di negara-negara dunia ketiga. Sedangkan para ilmuwan dan sarjana teknik yang terkait dengan riset dan pengembangan sains dan teknologi adalah 87,4% : 12,6% (Ihde, 1990). Jelaslah terdapat perbedaan yang cukup jauh berkenaan dengan ketersediaan SDM dan dukungan terhadap riset dan pengembangan.
Fenomena ini sepatutnya memang kita renungkan. Apakah kebanyakan masyarakat abai terhadap perkembangan sains dan teknologi mutakhir? Ada kesan kita telah terkondisikan, terutama secara ekonomi dan politik, untuk tidak mengembangkan sains dan teknologi. Sedikit sekali saya kira dukungan publik terhadap perkembangan sains dan teknologi.
Banyak faktor berkenaan dengan hal ini, seperti misalnya peran serta negara dan tentu saja faktor kebudayaan dan juga agama. Faktor-faktor ini saya pikir sangat menentukan dalam konteks kemajuan sains dan teknologi.
Ada analisa lain bahwa kolonialisme juga menentukan terbentuknya infrastruktur sains dan teknologi. Kemajuan infrastruktur sains dan teknologi di India misalnya dikaitkan dengan kesuksesan kolonialisme, yang membentuk sebuah gagasan bahwa kolonialisme juga telah membawa kebaikan. Kasus Indonesia saya pikir juga demikian. Tapi tampaknya kolonialisme di Indonesia lebih memberikan kontribusi ke infrastruktur dalam bidang sosial dan politik.
Bahwa agama dan kebudayaan menjadi faktor yang menentukan proses transfer sains dan teknologi tampaknya juga belum menjadi sebuah kajian yang cukup serius. Dari sini muncul sebuah pertanyaan naif apakah Islam mendukung sains dan teknologi, bila memang demikian mengapa negara dengan mayoritas beragama Islam, seperti misal Indonesia atau Bangladesh, cukup tertinggal dalam sains dan teknologi? Malah kita saksikan bahwa negara-negara dengan masyarakat sekuler lah yang jauh lebih maju. Padahal dalam perkembangannya banyak ilmuwan berasal dari tradisi keislaman. Pertanyaan yang tampaknya sampai saat ini belum terjawab.
Kebudayaan teknologi tinggi seperti kita ketahui mempunyai fondasi pada pendidikan sains, yang tanpanya teknologi tak akan berkembang. Pada zaman keemasannya, wilayah dengan mayoritas agama Islam sebenarnya pernah mempunyai tradisi pendidikan sains yang cukup baik. Namun tradisi keilmuan ini tak ikut menyebar seperti halnya Islam itu sendiri.
Sains dan teknologi mutakhir telah menyingkap batas-batas dunia, ia telah menghasilkan kesimpulan-kesimpulan yang dalam arti tertentu bertentangan dengan ajaran agama. Galileo misalnya mendapat tentangan karena pemikirannya tentang heliosentris tidak sesuai dengan ajaran gereja. Demikian pula teori evolusi yang mendapat tentangan publik lebih luas karena telah menjelaskan proses terbentuknya kehidupan secara materialistik. Menurut saya inilah persoalannya, bahwa sains dan teknologi pada dasarnya adalah sebuah materialisme.
Gagasan ini kemudian membawa kita pada pemahaman bahwa semua yang saintifik dan teknologis adalah bersifat fisika (atau material). Materialisme dalam sains dan teknologi kemudian menjadi keniscayaan, ia telah menjelaskan banyak hal berkenaan dengan kebenaran-kebenaran praktis dalam kehidupan sehari-hari.
Percaya kepada yang gaib merupakan salah satu pilar agama Islam yang berdiri secara diametral dengan ideologi saintisme yang berkembang di barat. Seperti kita ketahui sains dan teknologi secara fondasional memahami material sebagai realitas ultim, yang ditentukan secara instrumental sampai tingkat subatomik, yang gaib atau non-material bukanlah sebuah kebenaran. Akibatnya, perkembangan sains dan teknologi telah mencuatkan pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang Tuhan.
Beberapa kajian etis filsafat teknologi juga telah membawa penilaian pejoratif terhadap teknologi. Pasalnya, teknologi telah merusak alam dan menstimulasi terjadinya peperangan (perlombaan membuat senjata). Bahkan otentisitas dan kebebasan bisa menjadi hilang karenanya. Boleh jadi inilah penyebab mengapa sains dan teknologi sekarang tak begitu populer dan berkembang dalam dunia Islam.
Bagaimanapun pendidikan sains sebagai infrastruktur teknologi modern penting untuk tetap diperhatikan. Pengadaan instrumen sains, seperti instrumen optik, di sekolah-sekolah saya pikir menjadi sangat penting sebagai sebuah langkah untuk memperkenalkan ‘dunia teknologis’ yang telah menjadi paradigma dalam dunia modern. Seperti kita ketahui dunia Islam mempunyai kontribusi yang tidak sedikit dalam teknologi ini.
Selain itu perlu juga sebagai negara kepulauan memikirkan teknologi mana yang tepat dan sesuai dengan moda berpikir dan karakter agama dan kebudayaan di Indonesia. Strategi seperti ini mungkin bisa dijadikan alternatif untuk mengatasi ketertinggalan dalam hal sains dan teknologi. Kita tentunya tak ingin menerima begitu saja teknologi yang tidak kita mengerti esensi tekniknya. Karena bila demikian tentunya kita akan terasing dan akhirnya akan kehilangan identitas.
