Membaca Sains dengan Filsafat

Oleh: Budi Hartanto

Diskursus filsafat sains/ilmu pengetahuan bila kita cermati tidak begitu populer di Indonesia. Kajian tentang epistemologi atau teori tentang pengetahuan memang banyak kita temui dalam diskursus filsafat di Indonesia. Namun menurut saya epistemologi tidaklah cukup untuk menyikapi pesatnya perkembangan sains dan teknologi. Filsafat sains saya kira diperlukan di negara yang sedang berkembang dalam hal sains dan teknologi.

Filsafat sains sebagaimana dipahami adalah ilmu tentang bagaimana membangun sains yang baik dan juga bagaimana pada akhirnya kita dapat melihat realitas pengetahuan lebih rasional. Dalam perkembangannya ia membahas persoalan mendasar dalam ranah penelitian sains seperti metodologi, perumusan teori dan pembuatan pernyataan atau kesimpulan. Pada masa kontemporer masalah kebijakan publik tentang sains (science policy) dan etika sains (bioethics) juga menjadi bagian penting dalam filsafat sains.

Dalam konteks Indonesia, banyak hal dapat dijadikan pertimbangan berkenaan dengan relevansi diskursus filsafat sains. Seperti misal, kurangnya paper ilmiah di dibandingkan dengan negara-negara Asia lainnya menurut saya adalah salah satu problem yang muncul dalam konteks filsafat sains. Bahkan menurut sebuah penelitian (www.2dpm.umm.ac.id) jumlah paper atau publikasi ilmiah Indonesia di bawah Singapura, Malaysia dan Thailand. Berdasarkan sumber Depdiknas, dari 400 jurnal ilmiah yang ada hanya 10 jurnal saja yang diakui secara internasional. Sedangkan ilmuwan-ilmuwan yang menulis di jurnal internasional jumlahnya tak banyak hanya 0,8 artikel per satu juta penduduk, jauh berbeda dengan India yang mencapai 12 artikel per satu juta penduduk. (www.technologyindonesia.com).

Fenomena ini menandakan bahwa sains belum menjadi diskursus yang bersifat rasional dan publik. Saya kira kita membutuhkan diskursus filsafat sains agar sains kemudian menjadi lebih rasional. Inilah yang menstimulasi perkembangan sains, terutama tentu saja ketika nilai pragmatis sains diterapkan ke dalam sebuah masyarakat. Apresiasi atau kritik filosofis terhadap sains dalam sejarahnya sangat berpengaruh terhadap perkembangan sains itu sendiri.

Kritik dalam filsafat sains adalah cenderung ketika sains itu sendiri disampaikan sampai kemudian menjadi sebuah diskursus dalam masyarakat. Jadi ia tidak semata terbatas pada kegiatan memproduksi pengetahuan secara metodologis dan instrumental, tapi juga bagaimana kemudian membahasakannya secara ilmiah dan rasional (publik).

Dengan demikian yang menjadi keutamaan sebenarnya bukanlah bagaimana sains itu berkembang suturut dengan dialektika teori dan daya imajinasi yang dibangun oleh ilmuwan, tapi ketika ia dapat dipahami dalam lingkup komunitas sains dan juga terutama oleh publik lebih luas. Demikianlah kemudian sains menjadi filosofis dan rasional.

Ada perkataan cukup menarik dari Prof. Dr. Karlina Supelli dalam pengantarnya di Jurnal Filsafat Driyarkara edisi TH. XXVII NO. 3/2004, menurutnya ”Filsafat ilmu didominasi oleh pendekatan berbasis logika formal—menyelidiki realitas macam apa yang akan ditampilkan oleh teori-teori ilmiah. Sementara itu, kajian sosio-historis menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan bukan hanya tumbuh di dalam kebudayaan, tetapi juga tumbuh menjadi tempat hidup manusia modern. Wajarlah jika filsafat yang memadai untuk merefleksikan ilmu pengetahuan, adalah filsafat yang juga dilengkapi dengan refleksi mengenai hubungan (epistemik dan ontik) antara pengetahuan dan masyarakat, serta implikasi sosial, budaya, politik, dan etisnya.

Sains memang selalu diandaikan rasional. Tapi sebenarnya ada kriteria-kriteria tentang bagaimana sebuah ilmu dapat dikatakan rasional. Sebagai misal dalam filsafat sains tidak hanya basis epistemologi saja yang menentukan sebuah penelitian, tapi juga konteks sosial dan objek pengetahuan berpengaruh terhadap nilai rasionalitas sains itu sendiri. Seperti dikatakan oleh Karlina Supelli bahwa filsafat sains yang benar adalah yang juga merefleksikan hubungan antara pengetahuan dan masyarakat beserta implikasi-implikasinya.

Pemikiran Roy Bhaskar tentang tradisi-tradisi dalam filsafat sains saya kira juga dapat kita ajukan menyangkut rasionalitas sains ini. Dalam tulisannya Philosophy and Scientific Realism (Critical Realism/Essential Readings, 1998) ia mengatakan bahwa ada tiga fase yang mencirikan perkembangan filsafat sains. Pertama, empirisme klasik. Empirisme klasik memahami objek ilmu pengetahuan semata-mata sebagai kejadian-kejadian atomistik (atomistic events). Teori korespondensi dalam konteks simetri antara pengetahuan dan objek yang diketahui menjadi ciri utama fase ini. Kedua, yakni idealisme transendental yang bertolak dari pemikiran Imanuel Kant. Objek pengetahuan ilmiah dalam hal ini adalah model-model ideal yang kemudian menjadi rujukan berkenaan dengan tatanan atau keteraturan alam semesta.

Yang ketiga yang kemudian menjadi sentral dalam pemikiran Roy Bhaskar adalah realisme transendental. Realisme transendental memahami objek pengetahuan sebagai struktur-struktur dan mekanisme yang kemudian menghasilkan (generate) fenomena/realitas dan pengetahuan sebagai aktivitas sosial dalam sains. Objek pengetahuan di sini mempunyai karakter universal dan independen.

Fase yang ketiga (realisme transendental) inilah menurut saya relevan untuk disampaikan dalam konteks pentingya mengetengahkan rasionalitas sains. Merujuk pada pemikiran Roy Bhaskar dapat disimpulkan bahwa sains seharusnya tak terpisah dengan realitas/rasionalitas kehidupan itu sendiri. Pemikirannya tentang realisme transendental misalnya menjelaskan bahwa kegiatan sains tidak hanya menghasilkan pengetahuan sebagai aktivitas sosial saja, tapi juga kemudian mencipta struktur dan mekanisme, yang kemudian mencipta fenomena atau realitas yang kita hidupi. Menurut Roy Bhaskar menyimpan (isolate) penemuan ilmiah dalam konteks perkembangan ilmu dan penyingkapan kebenaran hanya akan membuat sains itu sendiri bersifat non-anthropomorphic (1998, hal. 6).

Berdasarkan pemikiran tersebut di atas dapat kita proposisikan bahwa sains yang lepas dari masyarakat atau publik tentu bukanlah sains yang ideal. Sains yang tercerabut dan terlepas dari wilayah publik tentu akan menjadi asing dan konsekuensinya tidak sesuai dengan demokrasi sebagai sistem politik yang diidealkan dalam dunia-kehidupan. Kita memerlukan sains yang bersifat ’deliberatif’, yakni sains yang mempunyai karakter diskursif dalam konteks penyelesaian masalah-masalah dan dialektika perkembangan sains itu sendiri.

Keberadaan majalah, jurnal, koran, dan internet (e-journal, blog, website, dll) saya kira menjadi penting sebagai medium diskursus. Sains semestinya memang dipahami sebagai bagian dari kehidupan sosial. Stereotip ilmuwan yang terbatas berada hanya di dalam laboratorium saya kira mesti didekonstruksi. Membahasakan sains secara ilmiah dan popular sebagai misal diperlukan dalam konteks membumikan sains. Dengan menulis sains secara ilmiah dan popular (science writing) tentunya akan menjadikan sains itu sendiri sebagai bagian dari masyarakat.

Jurnalisme sains memang diperlukan dalam rangka meminimalisir ’kesenjangan’ pikiran (pengetahuan) antara ilmuwan dan masyarakat. Sains yang lepas dari konteks masyarakat tentunya akan berkembang tanpa tujuan normatif dari sains itu sendiri yang bermula pada masa renaisance; yakni membebaskan manusia dari kepicikan dan kejumudan.●